BAB I
1.1 LATAR BELAKANG
Manusia dalam kesehariannya tidak akan lepas dari
kebudayaan, karena manusia adalah pecinta dan pengguna kebudayaan itu sendiri.
Manusia hidup karena adanya kebudayaan. Sementara itu kebudayaan akan terus
hidup dan berkembang manakala manusia mau melestarikan kebudayaan dan bukan
merusaknya. Dengan demikian manusia dan kebudayaan tidak dapat di pisahkan satu
sama lain, karena dalam kehidupannya tidak mungkin tidak berurusan dengan
hasil-hasil kebudayaan, setiap hari manusia melihat dan menggunakan kebudayaan,
bahkan kadang kala di sadari atau tidak manusia merusak kebudayaan
1.2 RUMUSAN MASALAH
Rumusan
masalah
1. Bagaimana
cara menjaga budaya dalam kalangan masyarakat kota
2. Bagaimana
peran masyarakat dan pemerintah dalam melestarikan budaya Indonesia
3. bagaimana
sejarah-sejarah kebudayaan tersebut terbentuk
1.3 MANFAAT DAN TUJUAN
Tujuan:
1. Manjaga
budaya dalam kalangan masyarakat kota
2. Peran
masyarakat dan pemerintah dalam melestarikan budaya indonesia
3. Mengetahui
sejarah-sejarah kebudayaan
Manfaat
:
1. Tradisi,
sebagai suatu cara mencirikan kahidupan masyarakat yang khas
2. Merupakan
perangkat sistem lambang, arti, dan bagan (pedoman) kehidupan masyarakat
3. Kebudayaan
masyarakat setempat dan perkembangannya dari waktu ke waktu
BAB II
PENGERTIAN KEBUDAYAAN
Budaya adalah suatu cara hidup
yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan
dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit,
termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian,
bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak
terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya
diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan
orang-orang yang berbada budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya,
membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.Budaya adalah suatu pola hidup
menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya
turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar
dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.Beberapa alasan mengapa orang
mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat
dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang
dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya
sendiri.”Citra yang memaksa” itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai
budaya seperti “individualisme kasar” di Amerika, “keselarasan individu dengan
alam” d Jepang dan “kepatuhan kolektif” di Cina. Citra budaya yang brsifat
memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku
yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya
yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan
hidup mereka.Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang
koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya
meramalkan perilaku orang lain.
Kebudayaan sangat erat
hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski
mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan
oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk
pendapat itu adalah Cultural-Determinism.
Herskovits memandang
kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi
yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink,
kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu
pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan
lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang
menjadi ciri khas suatu masyarakat.
Menurut Edward Burnett Tylor,
kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung
pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan
kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
Menurut Selo Soemardjan dan
Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta
masyarakat.
Dari berbagai definisi
tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang
akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang
terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari,
kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah
benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa
perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku,
bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang
kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan
bermasyarakat.
B.Unsur-Unsur Kebudayaan
Koentjaraningrat (1985)
menyebutkan ada tujuh unsur-unsur kebudayaan. Ia menyebutnya sebagai isi pokok
kebudayaan. Ketujuh unsur kebudayaan universal tersebut adalah :
- Kesenian
- Sistem teknologi dan peralatan
- Sistem organisasi masyarakat
- Bahasa
- Sistem mata pencaharian hidup dan sistem ekonomi
- Sistem pengetahuan
- Sistem religi
Pada jaman modern seperti ini budaya asli negara
kita memang sudah mulai memudar, faktor dari budaya luar memang sangat
mempengaruhi pertumbuhan kehidupan di negara kita ini. Contohnya saja anak muda
jaman sekarang, mereka sangat antusias dan up to date untuk mengetahui juga
mengikuti perkembangan kehidupan budaya luar negeri. Sebenarnya bukan hanya
orang-orang tua saja yang harus mengenalkan dan melestarikan kebudayaan asli
negara kita tetapi juga para anak muda harus senang dan mencintai kebudayaan
asli negara sendiri. Banyak faktor juga yang menjelaskan soal 7 unsur budaya
universal yaitu :
1.Kesenian
Setelah memenuhi kebutuhan
fisik manusia juga memerlukan sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhan psikis
mereka sehingga lahirlah kesenian yang dapat memuaskan.
2.Sistem teknologi dan peralatan
Sistem yang timbul karena
manusia mampu menciptakan barang – barang dan sesuatu yang baru agar dapat
memenuhi kebutuhan hidup dan membedakan manusia dengam makhluk hidup yang lain.
3.Sistem organisasi masyarakat
Sistem yang muncul karena
kesadaran manusia bahwa meskipun diciptakan sebagai makhluk yang paling
sempurna namun tetap memiliki kelemahan dan kelebihan masing – masing antar
individu sehingga timbul rasa utuk berorganisasi dan bersatu.
4.Bahasa
Sesuatu yang berawal dari
hanya sebuah kode, tulisan hingga berubah sebagai lisan untuk mempermudah
komunikasi antar sesama manusia. Bahkan sudah ada bahasa yang dijadikan bahasa
universal seperti bahasa Inggris.
5.Sistem mata pencaharian hidup dan
sistem ekonomi
Sistem yang timbul karena
manusia mampu menciptakan barang – barang dan sesuatu yang baru agar dapat
memenuhi kebutuhan hidup dan membedakan manusia dengam makhluk hidup yang lain.
6.Sistem pengetahuan
Sistem yang
terlahir karena setiap manusia memiliki akal dan pikiran yang berbeda sehingga
memunculkan dan mendapatkan sesuatu yang berbeda pula, sehingga perlu
disampaikan agar yang lain juga mengerti.
7.Sistem religi
Kepercayaan
manusia terhadap adanya Sang Maha Pencipta yang muncul karena kesadaran bahwa
ada zat yang lebih dan Maha Kuasa.
C.WUJUD KEBUDAYAAN
Menurut J.J. Hoenigman,
wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan artefak.
1.Gagasan (Wujud ideal)
Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan,nilai-nilai,norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.
Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan,nilai-nilai,norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.
2.Aktivitas (tindakan)
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan.
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan.
3.Artefak (karya)
Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret di antara ketiga wujud kebudayaan. Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.
Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret di antara ketiga wujud kebudayaan. Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.
D.FAKTOR YANG MENDORONG DAN MENGHAMBAT
PERUBAHAN KEBUDAYAAN
1.Mendorong Perubahan Kebudayaan
adanya unsur-unsur kebudayaan yang memiliki
potensi mudah berubah,terutama unsur-unsur teknologi dan ekonomi.adanya
individu-individu yang mudah menerima unsur-unsur perubahan kebudayaan terutama
generasi muda.
2.Menghambat perubahan kebudayaan
adanya unsur-unsur kebudayaan yang memiliki
potensi sukar berubah seperti : adat istiadat,dan keyakinan agama,adanya
individu-individu yang sukar menerima unsur-unsur perubahan terutama generasi
kolot.
A. FAKTOR INTERNAL
*PERUBAHAN DEMOGRAFIS
perubahan demografis disuatu daerah biasanya
cenderung terus bertambah,akan mengakibatkan terjadinya perubahan diberbagai
sektor kehidupan,contohnya : bidang perekonomian, pertambahan peduduk akan
persediaan kebutuhan pangan,sandang dan papan.
*KONFLIK SOCIAL
konflik social dapat mempengaruhi terjadinya perubahan
dalam suatu masyarakat,contohnya : konflik kepentingan antara kaum pendatang
dengan penduduk setempat didaerah transmigrasi,untuk mengatasinya pemerintah
mengikutsertakan penduduk setempat dalam program pembangunan bersama-sama para
transmigran.
*BENCANA ALAM
bencana alam yang menimpa masyarakat dapat
mempengaruhi perubahan contohnya : banjir,bencana longsor,letusan gunung berapi
masyarakat akan dievakuasi dan dipindahkan ketempat yang baru,disanalah mereka
harus beradaptasi dengan kondisi lingkungan dan budaya setempat sehingga
terjadi proses asimilisasi maupun alkuturasi.
*PERUBAHAN LINGKUNGAN ALAM
ada beberapa faktor misalnya pendangkalan muara
sungai yang membentuk delta,rusaknya hutan karena erosi,perubahan demikian
dapat mengubah kebudayaan hal ini disebabkan karena kebudayaan mempunyai daya
adaptasi dengan lingkungan setempat.
2.FAKTOR EKSTERNAL
*PERDAGANGAN
indonesia terletak pada jalur perdagangan asia
timur dengan india,timur tengah bahkan eropa barat,itulah sebabnya indonesia
sebagai persinggahan pendagang pendagang besar,selain berdagang mereka juga
memperkenalkan budaya mereka pada masyarakat setempat sehingga terjadilah
perubahan budaya.
*PENYEBARAN AGAMA
masuknya unsur-unsur agama hindu dari india atau
budaya arab bersamaan proses penyebaran agama hindu dan islam ke indonesia
demikian pula masuknya unsur-unsur budaya barat melalui proses penyebaran agama
kristen dan kalonialisme.
*PEPERANGAN
kedatangan bangsa barat ke indonesia umumnya
menimbulkan perlawanan keras dalam bentuk peperangan,dalam suasana tersebut
ikut masuk pula unsur unsur budaya bangsa asing ke indonesia.
KEBUDAYAAN BALI
Indonesia memiliki beragam suku,
agama, ras dan berbagai adat istiadat dengan begitu kebiasaan masyarakat
setempat pasti berbeda-beda, nah inilah yang membuat keunikan budaya bangsa dan tanah air kita,
sehingga perbedaan yang beraneka ragam ini membuat warna yang indah dalam satu
kesatuan sehingga dikenal dengan Bhineka Tunggal Ika. Seperti di Bali ada
beberapa kebiasaan unik masyarakat yang yang berhubungan agama Hindu dan adat istiadat yang ada di
masyarakat.Bali memiliki banyak berbagai warisan budaya leluhur yang masih tertanam dan melekat erat di
masyarakat Bali itu sendiri, juga berbagai tradisi atau kebiasaan unik yang masih dipegang teguh di
kalangan masyarakat.Budaya dan tradisi yang
ada memiliki ciri khas tersendiri di masing daerah, desa maupun banjar yang ada di Bali. Memiliki kekayaan
budaya yang beragam tentunya merupakan suatu tugas masyarakat untuk
melestarikannya, tidak tergilas atau bergeser karena pengaruh dunia modern saat
ini. Tentu semua ini dipengaruhi oleh adat istiadat, kepercayaan mistis dan
keyakinan beragama yang kental.
KEBIASAAN
MASYARAKAT BALI
Masyarakat Bali yang pada umumnya ramah tamah,
dengan pola kehidupan yang bhineka atau plurarisme dan tidak
terlalu banyak aturan ataupun fanatik terhadap suatu paham, memiliki adat
istiadat yang selalu mereka pegang teguh dalam kehidupan sehari-hari sehingga
mereka bisa hidup dengan kedamaian. Siapa tahu bagi anda yang kebetulan pertama
kali datang ke Pulau Seribu pura ini, entah itu untuk liburan, tugas kantor, study ataupun berbisnis, ada perlunya
mengetahui beberapa hal tentang kebiasaan masyarakat, selain mungkin
tempat-tempat wisata yang indah di sepanjang perjalanan juga kebiasaan
unik yang menarik.
Beberapa kebiasaan tersebut antara lain;
- Mesaiban– sebuah ritual kecil, yang dilakukan setiap pagi hari sehabis ibu-ibu selesai memasak di dapur, kebiasaan ritual ini sebelum makan, kebiasaan ini bisa sebagai wujud terima kasih atas apa yang telah dikaruniakan-Nya, dan juga sebagai sajian ke bhuta kala agar somya (tidak menggangu)
- Ngejot – kebiasaan bagi masyarakat untuk memberi dan diberi (berupa makanan). Bertujuan untuk menguatkan ikatan sosial di masyarakat, baik saudara maupun tetangga. Dilakukan saat salah satu keluarga ataupun masyarakat ada kegiatan upacara agama, kebiasaan ini juga dilakukan antara penduduk Bali Hindu dan non Hindu.
- Kasta– Catur Kasta, penggolongan masyarakat di Bali berdasarkan ras ataupun keturununan, digolongkan dari posisi yang paling atas; Brahmana, ksatria, Weisya dan Sudra. Yang mendominasi adalah Sudra (masyarakat biasa). Kelompok Sudra (mendominasi hampir 90%), di dalam berkomunikasidengan Brahmana, Ksatria dan Weisya, menggunakan tata bahasa Bali yang lebih halus. Begitu sebaliknya mereka akan menaggapi dengan halus pula.
- Kata “Bli”di Bali kata ini cukup populer, kata yang digunakan memanggil orang lain yang lebih tua dari kita atau paling tidak seumur (bisa diartikan “Mas”) dengan tujuan penuh keakraban antar sesama. Namun jika anda menggunakan kata ini perhatikan Kasta mereka apakah dari kasta yang lebih tinggi, seperti namanya ada embel-embel seperti; Ida, I Gusti, Ida Bagus, Cokorde dan Anak Agung. Walaupun mereka tidak tersinggung dengan Kata ‘Bli” yang kita sebutkan tapi itikad kita menghargai orang lain, alangkah baiknya tidak menggunakan sebutan tersebut.
- Kebiasaan sopan pada sesama apalai kepada orang yang lebih tua, dan pada kasta yang lebih tinggi. Menyangkut etika, sangat tidak sopan menunjukkan sesuatu dengan tangan kiri, lawan bicara bisa jadi tersinggung, apalagi menunjuk dengan kaki, lawan bicara bisa jadi emosi. Kalau toh hal itu harus dilakukan, bilang maaf terlebih dahulu, atau orang bali biasa bilang kata “tabik”.
- Karma Phala– masyarakat hindu di Bali sangat meyakini sekali hukum karma phala ini yang. Karma Phala ini berarti kebaikan yang kita lakukan kebaikan pula yang akan kita dapatkan, begitu sebaliknya. Sehingga orang-orang untuk melakukan tindakan yang tidak baik harus berpikir tentang pahala yang akan mereka peroleh nantinya, diyakini pahalanya bisa dinikmati/ berimbas di kehidupan sekarang, di akhirat dan kehidupan berikutnya bahkan bisa sampai ke anak-cucu. Begitu besarnya hukum sebab akibat ini, sehingga di harapkan semua masyarakat bisa berbuat kebaikan.
Banyak sekali upacara-upacara di provinsi Bali yang
sering kita dengar diantaranya Upacara Bukakak dan Upacara Ngaben
Upacara Bukakak ialah upacara dalam rangka
melakukan permohonan kepada Sanghyang Widhi Wasa untuk memberikan kesuburan
kepada tanah-tanah pertanian mereka supaya hasil panennya berlimpah ruah.
Kebiasaan dalam gelaran upacara unik ini dilakukan di desa adat dan tidak dilakukan
di daerah-daerah lainnya di Bali. Jadi, bagi Anda yang ingin menyaksikan
bagaimana upacara ini digelar bisa menyambangi desa adat Bali.
Masyarakat desa adat yang melaksanakan upacara ini
adalah masyarakat agraris yang masih dengan setia memegang teguh adat istiadat
dan kepercayaaan secara turun temurun yang diwariskan leluhur mereka, dan
Salah satu warisan yang selalu dijaga, dipelihara dan dilakukan oleh masyarakat
desa tersebut adalah ritual Upacara Bukakak. Upacara Bukakak sudah dilakukan
sejak zaman dahulu dan masih terperihara hinggga sekarang, pada mulanya upacara
ini dilakukan 1 tahun sekali, namun karena terkendala faktor biaya yang
tidak sedikit, akhirnya upacara ini dilakukan setiap 2 tahun sekali.
Menjelang sebelum upacara Bukakak ini diadakan, ada
persiapan lain yg dilakukan, yakni
- Membersihkan perlengkapan upacara.
- Upacara ngusaba umi diadakan di Pura Pelinggih.
- Membuat Dangsil berbentuk segi empat yang terbuat dari pohon pinang, dengan rangkaian bambu dihiasi dengan daun enau tua yang dibuat bertingkat tingkat/berundak undak seperti anak tangga terdiri dari 7,9 dan 11 tingkat, ini semua melambangkan Tri Murti (Dewa Brahma, Wisnu dan Siwa).
- Mengadakan upacara Ngusaba di pura yang terdapat di desa setempat.
- Upacara Gedenin di pura Subak
Upacara Ngaben
Upacara Ngaben atau sering pula disebut upacara Pelebon kepada
orang yang meninggal dunia, dianggap sangat penting, ramai dan semarak, karena
dengan pengabenan itu keluarga dapat membebaskan arwah orang yang meninggal
dari ikatan-ikatan duniawinya menuju sorga, atau menjelma kembali ke dunia
melalui reinkarnasi atau kelahiran kembali. Status kelahiran
kembali roh orang yang meninggal dunia berhubungan erat dengan karma dan
perbuatan serta tingkah laku selama hidup sebelumnya.
Upacara ini biasanya dilakukan di hari-hari baik. Hari baik biasanya diberikan oleh para pendeta setelah melalui konsultasi dan kalender Bali yang ada. Persiapan biasanya diambil jauh-jauh sebelum hari baik ditetapkan. Pada saat inilah keluarga mempersiapkan “bade dan lembu” terbuat dari bambu, kayu, kertas yang beraneka warna-warni sesuai dengan golongan atau kedudukan sosial ekonomi keluarga bersangkutan.
Upacara ini biasanya dilakukan di hari-hari baik. Hari baik biasanya diberikan oleh para pendeta setelah melalui konsultasi dan kalender Bali yang ada. Persiapan biasanya diambil jauh-jauh sebelum hari baik ditetapkan. Pada saat inilah keluarga mempersiapkan “bade dan lembu” terbuat dari bambu, kayu, kertas yang beraneka warna-warni sesuai dengan golongan atau kedudukan sosial ekonomi keluarga bersangkutan.
Pagi hari
sebelum upacara Ngaben dimulai, segenap keluarga dan handai taulan datang untuk
melakukan penghormatan terakhir dan biasanya disajikan sekedar makan dan minum.
Pada tengah hari, jasad dibersihkan dan dibawa ke luar rumah diletakkan di Bade
atau lembu yang disiapkan oleh para warga Banjar, lalu diusung beramai-ramai,
semarak, disertai suara gaduh gambelan dan “kidung” menuju ke tempat upacara.
Bade diarak dan berputar-putar dengan maksud agar roh orang yang meningal itu
menjadi bingung dan tidak dapat kembali ke keluarga yang bisa menyebabkan
gangguan, dll.
Sesampainya
di tempat upacara, jasad ditaruh di punggung lembu, pendeta mengujar mantra –
mantra secukupnya, kemudian menyalakan api perdana pada jasad. Setelah semuanya
menjadi abu, upacara berikutnya dilakukan yakni membuang abu tersebut ke sungai
atau laut terdekat lalu dibuang, dikembalikan ke air dan angin. Ini merupakan
rangkaian upacara akhir atas badan kasar orang yang meninggal, kemudian
keluarga dapat dengan tenang hati menghormati arwah tersebut di pura keluarga,
setelah sekian lama, arwah tersebut diyakini akan kembali lagi ke dunia.
Karena upacara
ini memerlukan tenaga, biaya dan waktu yang panjang dan lumayan besar, hal ini
sering dilakukan cukup lama setelah kematian.Untuk menanggung beban biaya,
tenaga dan lain-lainnya, kini masyarakat sering melakukan pengabenan secara
massal / bersama. Jasad orang yang meninggal sering dikebumikan terlebih dahulu
sebelum biaya mencukupi, namun bagi beberapa keluarga yang mampu upacara ngaben
dapat dilakukan secepatnya dengan menyimpan jasad orang yang telah meninggal di
rumah, sambil menunggu waktu yang baik. Selama masa penyimpanan di rumah itu,
roh orang yang meninggal menjadi tidak tenang dan selalu ingin kebebasan
Adapun pernikahan adat Bali banyak sekali tata cara
atau tradisi adat pernikahan tersebut diantaranya :
Pernikahan
adat bali sangat diwarnai dengan pengagungan kepada Tuhan sang pencipta, semua
tahapan pernikahan dilakukan di rumah mempelai pria, karenamasyarakat Bali
memberlakukan sistem patriarki, sehingga dalam pelaksanan upacara perkawinan
semua biaya yang dikeluarkan untuk hajatan tersebut menjadi tanggung jawab
pihak keluarga laki – laki. hal ini berbeda dengan adat pernikahan jawa yang semua proses pernikahannya
dilakukan di rumah mempelai wanita. Pengantin wanita akan diantarkan kembali
pulang ke rumahnya untuk meminta izin kepada orang tua agar bisa tinggal
bersama suami beberapa hari setelah upacara pernikahan.
merupakan pakaian adat pernikahan Bali
- Upacara Ngekeb
Acara ini
bertujuan untuk mempersiapkan calon pengantin wanita dari kehidupan remaja
menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga memohon doa restu kepada Tuhan Yang
Maha Esa agar bersedia menurunkan kebahagiaan kepada pasangan ini serta
nantinya mereka diberikan anugerah berupa keturunan yang baik.
Setelah itu
pada sore harinya, seluruh tubuh calon pengantin wanita diberi luluran yang
terbuat dari daun merak, kunyit, bunga kenanga, dan beras yang telah
dihaluskan. Dipekarangan rumah juga disediakan wadah berisi air bunga untuk
keperluan mandi calon pengantin. Selain itu air merang pun tersedia untuk
keramas.
Sesudah
acara mandi dan keramas selesai, pernikahan adat bali akan dilanjutkan dengan
upacara di dalam kamar pengantin. Sebelumnya dalam kamar itu telah disediakan
sesajen. Setelah masuk dalam kamar biasanya calon pengantin wanita tidak
diperbolehkan lagi keluar dari kamar sampai calon suaminya datang menjemput.
Pada saat acara penjemputan dilakukan, pengantin wanita seluruh tubuhnya mulai
dari ujung kaki sampai kepalanya akan ditutupi dengan selembar kain kuning
tipis. Hal ini sebagai perlambang bahwa pengantin wanita telah bersedia
mengubur masa lalunya sebagai remaja dan kini telah siap menjalani kehidupan
baru bersama pasangan hidupnya.
- Mungkah Lawang ( Buka Pintu )
Seorang
utusan Mungkah Lawang bertugas mengetuk pintu kamar tempat pengantin wanita
berada sebanyak tiga kali sambil diiringi oleh seorang Malat yang
menyanyikantembang Bali. Isi tembang tersebut adalah pesan yang mengatakan jika
pengantin pria telah datang menjemput pengantin wanita dan memohon agar segera
dibukakan pintu.
- Upacara Mesegehagung
Sesampainya
kedua pengantin di pekarangan rumah pengantin pria, keduanya turun dari tandu
untuk bersiap melakukan upacara Mesegehagung yang tak lain bermakna sebagai
ungkapan selamat datang kepada pengantin wanita. kemudian keduanya ditandu lagi
menuju kamar pengantin. Ibu dari pengantin pria akan memasuki kamar tersebut
dan mengatakan kepada pengantin wanita bahwa kain kuning yang menutupi tubuhnya
akan segera dibuka untuk ditukarkan dengan uang kepeng satakan yang ditusuk
dengan tali benang Bali dan biasanya berjumlah dua ratus kepeng
- Madengen–dengen
Upacara ini
bertujuan untuk membersihkan diri atau mensucikan kedua pengantin dari energi
negatif dalam diri keduanya. Upacara dipimpin oleh seorang pemangku adat atau
Balian
- Mewidhi Widana
Dengan
memakai baju kebesaran pengantin, mereka melaksanakan upacara Mewidhi Widana
yang dipimpin oleh seorang Sulingguh atau Ida Peranda. Acara ini merupakan
penyempurnaan pernikahan adat bali untuk meningkatkan pembersihan diri
pengantin yang telah dilakukan pada acara – acara sebelumnya. Selanjutnya,
keduanya menuju merajan yaitu tempat pemujaan untuk berdoa mohon izin dan restu
Yang Kuasa. Acara ini dipimpin oleh seorang pemangku merajan
- Mejauman Ngabe Tipat Bantal
Beberapa
hari setelah pengantin resmi menjadi pasangan suami istri, maka pada hari yang
telah disepakati kedua belah keluarga akan ikut mengantarkan kedua pengantin
pulang ke rumah orang tua pengantin wanita untuk melakukan upacara Mejamuan.
Acara ini dilakukan untuk memohon pamit kepada kedua orang tua serta sanak
keluarga pengantin wanita, terutama kepada para leluhur, bahwa mulai saat itu
pengantin wanita telah sah menjadi bagian dalam keluarga besar suaminya. Untuk
upacara pamitan ini keluarga pengantin pria akan membawa sejumlah barang bawaan
yang berisi berbagai panganan kue khas Bali seperti kue bantal, apem, alem,
cerorot, kuskus, nagasari, kekupa, beras, gula, kopi, the, sirih pinang,
bermacam buah–buahan serta lauk pauk khas bali.
Respon
Masyarakat Bali Terhadap Masuknya Kebudayaan Asing
Masyarakat Bali menjunjung tinggi
sikap toleransi. Mereka tidak membeda-bedakan atas perbedaan kebudayaan. Walau
berbeda kebudayaan dalam bersosial mereka tetap ramah dan sopan. Dan masyarakat
Bali saling menghormati dan menghargai atas perbedaan kebudayaan yang ada.
Di zaman modern ini kebudayaan luar yang dibawa
wisatawan mampu berpengaruh terhadap perubahan kebudayaan lokal. Tidak heran
ditempat wisata seperti Bali, selain dari pengaruh kebudayaan-kebudayaan luar
yang dibawa oleh wisatawan dapat berpengaruh terhadap budaya lokal. Seperti
gaya hidup kebarat-baratan seolah-olah sekarang menjadi gaya hidup yang populer
di masyarakat.
Tetapi masyarakat Bali menanggapi masuknya kebudayaan
asing sebagai hal yang biasa saja, tidak membesar-besarkan atau mengecil-ngecilkan
hal tersebut. Masyarakat Bali sangat taat pada kebudayaannya, mereka mempunyai
pedoman-pedoman berperilaku yang baik yang berasal dari adat istiadat
kepercayaan mereka sendiri. Berdasarkan hal tersebut, budaya masyarakat Bali
tidak mudah tergoyahkan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar